Gue punya om yang baru setahun pensiun. Dulu beliau sibuk ngurus kantor, sekarang HP-nya nggak lepas dari tangan. Grup WhatsApp keluarga, grup alumni, grup arisan — semua diikuti. Dan hampir tiap minggu, beliau nerusin pesan berantai ke gue. Isinya macam-macam: mulai dari kabar kesehatan yang bikin panik, sampai "berita" politik yang bikin darah naik.
Waktu gue tanya, "Om, ini beneran dari mana sumbernya?" Jawabannya selalu sama: "Nggak tahu, tapi kata temen gue di grup, ini penting banget." Nah, dari situ gue sadar satu hal. Bukan cuma soal percaya atau nggak percaya berita. Masalahnya lebih ke bingung milih antara dua jenis informasi yang kelihatannya sama: berita asli yang memang penting, dan hoax yang dikemas rapi biar kelihatan penting.
Dua Jenis "Berita" yang Sering Ketuker
Coba deh kita bedah. Di satu sisi, ada berita asli — hasil kerja jurnalis, ada sumber jelas, ada nama media yang bisa dicek, ada tanggal terbit. Di sisi lain, ada pesan berantai yang formatnya mirip berita: ada judul heboh, ada foto, ada tulisan "sebarkan sebelum dihapus". Tapi begitu ditelusuri, sumbernya nggak jelas, medianya nggak ada, atau malah udah pernah dibantah.
Baca juga: Mengelola Emosi Saat Mendidik Anak PAUD: Kunci Pengasuhan Efektif
Masalahnya, dua-duanya datang lewat jalur yang sama: grup WhatsApp keluarga. Dua-duanya dikirim sama orang yang kita percaya. Dua-duanya pakai bahasa yang meyakinkan. Wajar kalau banyak pensiunan — yang mungkin nggak terbiasa ngecek internet — akhirnya salah pilih.
Gue pernah ngalamin sendiri. Ada pesan soal "air rebusan daun ini bisa sembuhin segala penyakit" yang dikirim ke grup keluarga. Tiga bibi gue langsung percaya dan nerusin ke grup lain. Padahal kalau dicek di situs cek fakta, info itu udah dibantah berkali-kali. Ini bukan karena mereka kurang pintar. Tapi karena formatnya memang dibuat mirip berita beneran.
Tanda-Tanda yang Gampang Dikenali
Nggak perlu jadi ahli IT buat milih yang mana. Ada beberapa tanda sederhana yang bisa kamu pakai tiap kali dapat pesan "berita" di grup.
Cek Sumber dan Tanggalnya
Berita asli selalu punya rumah. Ada nama media, ada alamat situs, ada tanggal terbit. Kalau pesan yang kamu terima cuma tulisan panjang tanpa nama media, atau tulisannya "dari grup sebelah", itu lampu kuning. Kalau ada tanggalnya tapi tanggalnya tahun lalu dan dikirim ulang sekarang seolah baru — itu lampu merah.
Gue selalu ngajarin om gue satu trik: copy satu kalimat dari pesan itu, tempel di Google, tambahin kata "hoax". Kalau ternyata udah banyak yang ngebahas, biasanya langsung kelihatan. Cara ini simpel banget, tapi ngebantu banget buat pensiunan yang nggak mau ribet.
Perhatikan Bahasa yang Bikin Panik
Ini yang paling sering kelewat. Hoax biasanya pakai bahasa yang mendesak: "SEBARKAN SEBELUM DIHAPUS", "AWAS BAHAYA", "JANGAN SAMPAI KAMU JADI KORBAN BERIKUTNYA". Berita asli jarang banget pakai huruf kapital semua dan tanda seru berlebihan. Jurnalis yang beneran nggak perlu bikin kamu panik dulu buat bikin kamu baca.
Kalau pesan pertama yang kamu rasain adalah takut, bukan penasaran — itu tandanya kamu perlu berhenti dulu sebelum nerusin.
Gue nggak bilang semua pesan heboh itu pasti hoax. Tapi pesan yang niatnya bikin kamu buru-buru nerusin ke orang lain, biasanya memang nggak peduli sama kebenaran. Yang penting viral dulu.
Kenapa Pensiunan Rentan Kena
Ini bukan soal usia, lho. Ini soal kebiasaan. Banyak pensiunan yang dulu kerja di lingkungan dengan informasi terbatas — dari atasan, dari surat resmi, dari rapat. Sekarang tiba-tiba banjir informasi dari mana-mana, dan nggak ada yang ngajarin cara nyaringnya.
Ditambah lagi, pensiunan punya banyak waktu luang dan jaringan sosial yang luas. Dua hal ini bagus banget. Tapi kalau nggak dibarengi kebiasaan ngecek, jadi celah buat hoax menyebar. Om gue bilang, "Gue kan cuma nerusin, bukan bikin." Padahal justru peran penerus itu yang bikin hoax hidup terus.
Gue pernah baca data dari Kominfo beberapa tahun lalu, ribuan konten hoax beredar tiap hari di Indonesia. Sebagian besar penyebarannya lewat WhatsApp grup. Dan kelompok yang paling sering jadi korban sekaligus penyebar ya kelompok usia lanjut. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka percaya sama orang-orang di grupnya.
Cara Simpel Buat Mulai Hari Ini
Nggak usah nunggu jadi ahli. Mulai dari tiga langkah kecil ini aja:
- Sebelum nerusin, tanya dulu: "Sumbernya dari mana?" Kalau nggak bisa jawab, jangan diterusin.
- Pasang aplikasi cek fakta di HP. Ada beberapa yang gratis dan gampang dipakai, tinggal ketik kata kuncinya.
- Bikin aturan grup keluarga: sepakat buat nggak nerusin pesan berantai yang nggak jelas sumbernya. Ini bisa jadi kesepakatan bareng, jadi nggak ada yang tersinggung.
Gue sendiri sekarang kalau dapat pesan aneh dari om, balasnya santai aja: "Om, ini kayaknya hoax deh. Coba gue cek dulu ya." Nggak perlu debat, nggak perlu ngajarin. Cukup tunjukin hasil ceknya. Lama-lama beliau jadi ikut kebiasaan ngecek sendiri.
Intinya, memilih antara berita asli dan hoax itu bukan soal pintar atau nggak pintar. Ini soal kebiasaan. Dan kebiasaan bisa dibentuk kapan aja, termasuk setelah pensiun. Yang penting kamu mau berhenti sebentar sebelum pencet tombol "teruskan". Karena satu pesan yang kamu tahan, bisa nyelametin satu grup dari salah paham.
Kalau kamu pensiunan atau punya orang tua yang pensiunan, coba deh mulai obrolan soal ini hari ini. Nggak perlu ceramah panjang. Cukup satu pesan: "Yuk, kita cek dulu sebelum nerusin." Kecil, tapi ngaruh banget.